Detail Cantuman Kembali
analisa emisi dengan metode dinamika sistem dan persebaran gas buang terhadap kualitas udara
Pelabuhan Tanjung Perak merupakan pelabuhan terbesar kedua yang ada di Indonesia. Pelabuhan Tanjung Perak memiliki kapasitas sebesar 2,1 juta TEUs (Twenty-Foot Equivalent Unit). Terjadi kenaikan arus petikemas pada tahun 2017 sebesar 4,9 juta TEUs dan pada tahun 2018 sebesar 5,3 juta TEUs membuat pelabuhan Tanjung Perak kelebihan daya tampung petikemas. Tingginya aktivitas di pelabuhan tersebut serta bertambahnya lalu lintas bongkar muat menyebabkan polusi udara yang semakin meningkat setiap tahunnya. Dimana polusi udara disebabkan dari emisi-emisi gas buang yang dihasilkan oleh kapal, peralatan bongkar muat, serta lalu lintas truk peti kemas pelabuhan. Emisi gas buang yang bertambah akan berdampak pada kualitas udara disekitar daerah tersebut. Dimana emisi yang dihasilkan antara lain SOx (Sulfur Oksida), NOx (Nitrogen Oksida), CO (Karbon monoksida), CO2 (Karbon Dioksida). Emisi gas buang yang jumlahnya telah melebihi ambang batas wajar menurut standar yang ditentukan dapat mengakibatkan penyakit ISPA(Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Sehingga pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai emisi gas buang, mengetahui pada tahun berapa kualitas udara sudah tidak layak menurut Baku Mutu Udara Ambien Nasional, dan mengetahui sebaran gas buang di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Dalam perhitungan emsi gas buang menggunakan metode US EPA (United State Environmental Protection Agency). Dalam penelitian ini dibantu dengan menggunakan software Powersim Studio yang menggunakan metode Dinamika Sistem. Untuk persebaran emsisi gas buang digunakan metode Gaussian- Plume. Pada penelitian ini bahwa pada tahun 2019 terdapat daerah yang terdampak akibat emisi yang melebihi ambang batas BMUAN. Daerah tersebut antara lain Pabean Cantikan NO 2575.37 µg/m3, Wonokusumo NO 762.444 µg/m3, Sidotopo NO 556.066 µg/m3, Kedungcowek NO 435.809 µg/m3. Dilakukan prakiraan dari kondisi emisi pada tahun 2024 dengan menggunakan analisa yang dibantu dengan software Powersim Studio dan software Powersim Studio didapatkan emisi Pabean Cantikan NO 2639.754 µg/m3, Wonokusumo NO 781.505 µg/m3, Sidotopo NO 569.967 µg/m3, dan Kedungcowek NO 446.704 µg/m3. Sehingga pada tahun 2024 masih terdapat daerah terdampak emisi yang melebihi ambang batas menurut BMUAN (Baku Mutu Udara Ambien Nasional).
622.20.16 Ris a
NONE
Text
Indonesia
Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan, Universitas Hang Tuah
2020
Surabaya
xv, 134 p. : ill. ; 29 cm.
Skripsi
LOADING LIST...
LOADING LIST...







